Sosok Pemimpin Egois Atau Yang Bisa Kita Sebut Sebagai Balita

Mungkin kita harus tahu hal yang menjadikan kita sulit untuk memahami hati dan pikiran orang lain adalah karena sering kali kita lebih mementingkan ego diri sendiri atau kelompoknya ketimbang orang lain dalam lingkup lebih luas.

Sosok Pemimpin Egois Atau Yang Bisa Kita Sebut Sebagai Balita
Sosok Pemimpin Egois Atau Yang Bisa Kita Sebut Sebagai Balita

Tapi memang tidak bisa dipungkiri seperti itulah cara berfikir kebanyakan orang. Tidak ada didunia ini orang yang benar-benar sengaja ingin menjadi sosok yang egois, tapi sifat ini pada dasarnya adalah bawaan sejak lahir memang pada dasarnya manusia memiliki sifat egois.

Merasa tak percaya? Mari kita buktikan dengan mencoba bermain dengan anak yang usia dua atau tiga tahun. Jika diberikan pilihan atas beberapa mainan tentu mereka akan memilih mainan yang paling bagus diantara semua mainan tersebut dan mementingkan diri mereka sendiri.

Pemimpin Egois, Sosok Yang Idealkah Untuk Memimpin?


Nah sekarang kembali ke topik, ketika anda terlahir sebagai seorang pemimpin lalu anda lebih mementingkan kepentingan diri sendiri atau kelompok lantas bisa saja saya menyebut diri anda balita bukan? Tak ada bedanya anda dengan anak kecil usia dibawah 5 tahun. Barang milik sendiri tidak boleh dipegang orang lain, giliran hak punya orang lain main hantam saja.

Masalah pendapat dari orang disekitar tak pernah didengarkan. Selalu berpegang teguh pada pikiran diri sendiri pikiran orang lain ditolak mentah-mentah tanpa memikirkannya terlebih dahulu.

Satu cara untuk mengatasi agar diri kita tidak menjadi sosok pemimpin yang egois adalah dengan mencoba melihat suatu masalah atau kejadian dari perspektif orang lain. Sebagai seorang pemimpin jangan pernah memiliki sikap yang angkuh dan sombong.

Jika diibaratkan sedang bermain catur, saat ini posisimu tengah kritis dan hampir kalah sebelum mengambil langkah, cobalah berdiri dari tempat duduk kemudian berdirilah dibelakang lawan mu maka kamu akan dapat melihat papan catur dari arah sebaliknya. Sekarang kamu bisa melihat apa yang akan terjadi jika kamu melakukan langkah bodoh jika dilihat dari sudut pandang musuh.

Tantangan bagi pegiat bisnis adalah selalu melihat sudut pandang dari pelanggannya. Sedangkan bagi pemimpin adalah ketidakmauan melihat dari sudut pandang bawahannya. 

Sekarang jika kamu tidak ingin dilihat sebagai sosok balita oleh bawahanmu maka cobalah mulai sekarang untuk mengubah pola pikirmu. Perlahan coba pahami orang lain, berikan motivasi dan semangat dan selalu berusaha sebelum mengambil langkah penting melihat segala sesuatu dari berbagai sudut terlebih dahulu. Niscaya predikat kamu yang dulu disebut sebagai pemimpin penuh ego akan perlahan menghilang. Bawahan bahagia pemimpin senang dan organisasi atau bisnis pun menjadi sukses.

AD MEDIA INDUSTRY.

This Is The Newest Post